GҽL Aɳƚιʂҽρƚιƙ Tαɳɠαɳ👏🏻

 GEL ANTISEPTIK TANGAN DARI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI

Tiara

Sekolah Tinggi lmu Kesehatan

Borneo Lestari

Program Studi S1 Farmasi

*Email : tiaradrln99@gmail.com


                                                                              https://productnation.co/id/kebugaran-kesehatan/15125/hand-sanitizer-terbaik-merk-bagus-indonesia/


Pendahuluan

A.    Latar Belakang

Kebersihan perorangan (higiene) adalah upaya kesehatan masyarakat yang mempengaruhi kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia. Salah satu upaya kesehatan masyarakat yaitu mencuci tangan. Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan jari-jemari dengan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih,  sebagai ritual keagamaan ataupun tujuan-tujuan lainnya (Desiyanto dan Djannah, 2013). 

Berbagai macam jenis virus, bakteri dan jamur menempel pada tangan setiap harinya melalui kontak fisik. Untuk mencegah penyebaran virus, bakteri dan jamur, salah satu cara yang paling tepat adalah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Jika air bersih tidak tersedia, dapat menggunakan sabun dan air yang tersedia. Namun dapat juga digunakan pembersih tangan berbasis alkohol untuk membersihkan tangan. (Sari, 2014)   

Daun jambu biji (Psidium guava L.) memiliki kandungan senyawa fenol yang cukup banyak diantaranya tanin dan flavonoid, sehingga daun jambu biji bersifat antimikroba. Daun jambu biji mengandung metabolit sekunder yaitu terdiri dari tannin, polifenol, flavonoid, monoterpenoid, siskuiterpen, alkaloid, kuinon dan saponoid, vitamin B1, B2, B6 dan vitamin C. (Hermawan, 2012). Di dalam daun jambu biji, terdapat tanin, flavonoid dan juga zat guercetin glycoside. Terdapatnya tannin ini membuat pori-pori usus tertutup sehingga dalam pembuangan menjadi baik kembali. Didalam daun jambu biji memiliki antibakteri yang bagus dan kuat untuk mencegah bakteri tumbuh diakibatkan diare tersebut. Sehingga daun jambu biji ini baik kita konsumsi saat kita mengalami diare (Parbuntari, 2018).

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Zat-zat apa saja yang terkandung dalam antiseptic tangan?

2.      Apa manfaat menggunakan gel antiseptic tangan?

3.      Apa saja yang mempengaruhi daun jambu biji sebagai antiseptic tangan ?

 

C.    Tujuan

Untuk mengetahui zat-zat yang terkandung dalam antiseptic tangan, untuk mengetahui manfaat menggunakan gel antiseptic serta untuk mengetahui daun jambu biji sebagai antiseptic tangan.

 

D.    Manfaat

Manfaat dari karya tulis ini yaitu dengan menggunakan dan memanfaatkan bahan alam yang mudah didapat serta untuk menambah pengetahuan tentang manfaat dari gel antiseptic tangan.

 

PEMBAHASAN

Kebersihan perorangan (higiene) adalah upaya kesehatan masyarakat yang mempengaruhi kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia. Salah satu upaya kesehatan masyarakat yaitu mencuci tangan. Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan jari-jemari dengan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih,  sebagai ritual keagamaan ataupun tujuan-tujuan lainnya (Desiyanto dan Djannah, 2013). 

Cuci tangan yang baik adalah mencuci tangan dengan sabun plain (tidak mengandung anti mikroba) atau sabun anti septik yang mengandung anti mikroba, menggosok-gosok kedua tangan meliputi seluruh permukaan tangan dan mencucinya dengan air mengalir sekali pakai. Kebersihan pribadi dan pembersihan rutin sangat penting untuk kesehatan. Sering mencuci tangan dapat mencegah penyebaran mikroorganisme (bakteri atau kuman) yang menyebabkan penyakit umum (Desiyanto dan Djannah, 2013). Higiene tangan (Hand higiene) yang tepat dapat mencegah infeksi dan penyebaran resistensi antimikroba.

Berbagai macam jenis virus, bakteri dan jamur menempel pada tangan setiap harinya melalui kontak fisik. Untuk mencegah penyebaran virus, bakteri dan jamur, salah satu cara yang paling tepat adalah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Jika air bersih tidak tersedia, dapat menggunakan sabun dan air yang tersedia. Namun dapat juga digunakan pembersih tangan berbasis alkohol untuk membersihkan tangan. (Sari, 2014).   

Handsanitizer merupakan salah satu bahan antiseptik berupa gel yang sering digunakan masyarakat sebagai media pencuci tangan yang praktis. Penggunaan handsanitizer lebih efektif dan efisien bila dibanding dengan menggunakan sabun dan air sehingga masyarakat banyak yang tertarik menggunakannya.

Produk handsanitizer ada yang berbentuk cair dan ada yang berbentuk gel. Masyarakat pada umumnya menyukai penggunaan handsanitizer dalam bentuk gel karena menimbulkan rasa dingin dikulit dan mudah mengering. Bahan sediaan gel tersebut yang biasa digunakan adalah carbopol 94, sebab mempunyai stabilitas tinggi dan toksisitasnya rendah, sehingga dapat meningkatkan efektivitas penggunaan gel sebagai antibakteri. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Astuti, dkk (2015) bahwa gel antiseptik tangan dengan penambahan carbopol 940 menghasilkan warna sediaan putih, bentuk sediaan gel semisolid, pH 4,6-6,3 dan viskositas sekitar 2000-4000 cps.

Pemakaian antiseptik tangan dalam bentuk sediaan gel di kalangan masyarakat menengah ke atas sudah menjadi suatu gaya hidup. Beberapa sediaan hand sanitizer dapat dijumpai di pasaran dan biasanya banyak yang mengandung alkohol. Cara pemakaiannya dengan diteteskan pada telapak tangan, kemudian diratakan pada permukaan tangan. 

Kemampuan menghambat jamur dan bakteri disebabkan oleh adanya senyawa aktif dalam daun jambu biji. Salah satu senyawa aktif yang terkandung pada daun jambu biji adalah tanin. Kandungan senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat . Penelitian Claus dan Tyler pada tahun 1965 menyebutkan bahwa tannin mempunyai daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.

Daun jambu biji (Psidium guava L.) memiliki kandungan senyawa fenol yang cukup banyak diantaranya tanin dan flavonoid, sehingga daun jambu biji bersifat antimikroba. Daun jambu biji mengandung metabolit sekunder yaitu terdiri dari tannin, polifenol, flavonoid, monoterpenoid, siskuiterpen, alkaloid, kuinon dan saponoid, vitamin B1, B2, B6 dan vitamin C. (Hermawan, 2012). Di dalam daun jambu biji, terdapat tanin, flavonoid dan juga zat guercetin glycoside. Terdapatnya tannin ini membuat pori-pori usus tertutup sehingga dalam pembuangan menjadi baik kembali. Didalam daun jambu biji memiliki antibakteri yang bagus dan kuat untuk mencegah bakteri tumbuh diakibatkan diare tersebut. Sehingga daun jambu biji ini baik kita konsumsi saat kita mengalami diare (Parbuntari, 2018).

Adapun kelebihan hand sanitizer dapat membunuh kuman dalam waktu relatif cepat, karena mengandung senyawa alkohol (etanol, propanol, isopropanol) dengan konsentrasi ± 60% sampai 80% dan golongan fenol (klorheksidin, triklosan). Senyawa yang terkandung dalam hand sanitizer memiliki mekanisme kerja dengan cara mendenaturasi dan mengkoagulasi protein sel kuman.

Banyak faktor yang mempengaruhi turunnya kemampuan bahan aktif dalam membunuh kuman. Penyimpanan, pelarut, dan bahan aktif hand sanitizer berpengaruh terhadap kemampuan membunuh kuman. Hand sanitizer yang digunakan dalam penelitian menggunakan alkohol 59% sebagai bahan aktifnya. Alkohol merupakan bahan aktif yang mudah menguap. Molekul-molekul yang menempati ruang kosong di atas cairan akan menjadi molekul-molekul uap. Pada wadah yang tertutup molekul-molekul uap cairan akan tertahan di bawah tutup sehingga makin lama makin rapat. Keberadaan molekul-molekul uap di dalam wadah tertutup bergantung pada isi cairan dalam wadah. Cairan yang terus berkurang menyebabkan ruang kosong dalam wadah semakin luas, sehingga memungkinkan molekul-molekul cairan yang menguap akan menempati ruang kosong tersebut bergantung pada besar luas ruang kosong yang berada di atas permukaan cairan dalam wadah. (Soedojo, 1999). 

Faktor lain yang dapat menurunkan kemampuan hand sanitizer dalam membunuh kuman adalah penguapan bahan aktif. Penguapan antara lain dipengaruhi oleh suhu dan luas permukaan. Peningkatan suhu akan menyebabkan peningkatan perpindahan molekul dari fase cairan ke fase gas (penguapan). Begitu juga dengan permukaan yang lebih luas akan memberikan kesempatan yang lebih besar untuk molekul-molekul meninggalkan permukaan, sehingga laju penguapan menjadi lebih besar daripada permukaan yang kecil. Hal ini disebabkan karena molekul-molekul yang berhubungan dengan udara di atas permukaan lebih banyak.

 

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kelebihan hand sanitizer dapat membunuh kuman dalam waktu relatif cepat, karena mengandung senyawa alkohol (etanol, propanol, isopropanol) dengan konsentrasi ± 60% sampai 80% dan golongan fenol (klorheksidin, triklosan). Senyawa yang terkandung dalam hand sanitizer memiliki mekanisme kerja dengan cara mendenaturasi dan mengkoagulasi protein sel kuman.

Kemampuan menghambat jamur dan bakteri disebabkan oleh adanya senyawa aktif dalam daun jambu biji. Salah satu senyawa aktif yang terkandung pada daun jambu biji adalah tanin. Kandungan senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat . Penelitian Claus dan Tyler pada tahun 1965 menyebutkan bahwa tannin mempunyai daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.

 

B.     Saran

              Saran yang dapat saya berikan adalah agar kita dapat memanfaatkan bahan alam sebaik mungkin contohnya daun jambu biji yang bisa digunakan untuk antibakteri yang dapat di olah menjadi antiseptic tangan. Juga diharapkan kepada pembaca agar lebih rajin membersihkan diri contohnya cuci tangan sebelum dan sesudah makan agar terhindar dari penyakit.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Astuti, D. P. , Husni, P., Hartono, K. (2015). Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Antiseptik Tangan Minyak Atsiri Bunga Lavender (Lavanda angustifolia miller). Farmaka, 15(1), 176-184.

Desiyanto, F. A. dan Djannah, S. N. (2013). Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan Cairan Pembersih Tangan Antiseptik (Hand Sanitizer). Jurnal Kesehatan Masyarakat. 7(2), pp. 75–82. 

Hermawan Et. Al. 2012. Uji Aktifitas Ekstrak daun Jambu Biji Sebagai Antimikroba Terhadap Bakteri Kar ies Streptococcus mutanssecara In Vitro. Malang, Universitas Brawijaya, hal. 69.

Parbuntari, H., Prestica, Y., Gunawan, R., Nurman, M. and Adella, F. 2018. “Preliminary Phytochemical Screening (Qualitative Analysis) of Cacao Leaves (Theobroma cacao L.)”, EKSAKTA: Berkala Ilmiah Bidang MIPA, 19(2), pp. 40-45. doi: 10.24036/eksakta/vol19-iss2/142.

Sari Yusriana, Chinthia., Chrisnawan Setya Budi, Trisna Dewi. 2014. Uji Infusa daun nangka (Artocarpus heterophyllus) terhadap pertumbuhan bakteri (Staphylococcus aureus). Jurnal Permata Indonesia .Volume 5, Nomor 2.

Soedojo, Peter.1999. Fisika Dasar. Yogyakarta: Andi.

 


DAUN JAMBU BIJI 🍃 (Psidium guava L.)


Hai semuanya… selamat datang di blog perdana saya. Dipostingan pertama ini saya ingin membahas tentang ide saya yang terinprirasi dari penyakit diare. Biasanya diare dialami oleh anak-anak bahkan hingga orang dewasa. Diare terjadi karena kurangnya menjaga kebersihan diri. Untuk menyembuhkan penyakit diare biasanya kita meminum obat diare.  Kebanyakan obat diare berasal dari daun jambu biji

                                     Gambar Daun Jambu Biji                                                                                                                      Sumber: https://matabanua.co.id/

Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat, pada tempat terbuka dan mengandung air yang cukup banyak. Tanaman jambu biji (Psidium guava L.) ditemukan pada ketinggian 1 meter sampai 1.200 meter dari permukaan laut. Jambu biji berbunga sepanjang tahun. Perdu atau pohon kecil, tinggi 2 meter sampai 10 meter, percabangan banyak. Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, berwarna coklat kehijauan (Anggraini, 2010).
Psidium guava L. atau yang lebih dikenal jambu biji telah lama digunakan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat. Beberapa khasiat dari jambu biji ini antara lain sebagai antidiare, antibakteri, antioksidan analgesic dan antiinflamasi. Bagian tanaman yang digunakan agar diperoleh masing-masing aktivitas biologi dan farmokologi tersebut tidak selalu sama, misalnya agar diperoleh aktivitas sebagai alternatif pada terapi supportif demam berdarah dan antibakteri digunakan bagian daun, sedangkan jika diinginkan kandungan vitamin C digunakan buahnya (Yohanes, 2013). Ekstrak daun jambu biji (Psidium guava L.) diketahui memiliki kandungan saponin, flavonoid, tanin, terpenoid, alkaloid dan steroid (Dwiyanti, 2015).
Tidak hanya buahnya, daun jambu biji pun memiliki kaya akan kandungan yang bermanfaat. Salah satu senyawa aktif yang terkandung pada jambu biji adalah tanin. Departemen Kesehatan pada tahun 1989 menyatakan bahwa bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya, karena daunnya diketahui mengandung senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri dan minyak lemak (Oktiarni, 2012).
Daun jambu biji (Psidium guava L.) memiliki kandungan senyawa fenol yang cukup banyak diantaranya tanin dan flavonoid, sehingga daun jambu biji bersifat antimikroba. Daun jambu biji mengandung metabolit sekunder yaitu terdiri dari tannin, polifenol, flavonoid, monoterpenoid, siskuiterpen, alkaloid, kuinon dan saponoid, vitamin B1, B2, B6 dan vitamin C. (Hermawan, 2012). Di dalam daun jambu biji, terdapat tanin, flavonoid dan juga zat guercetin glycoside. Terdapatnya tannin ini membuat pori-pori usus tertutup sehingga dalam pembuangan menjadi baik kembali. Didalam daun jambu biji memiliki antibakteri yang bagus dan kuat untuk mencegah bakteri tumbuh diakibatkan diare tersebut. Sehingga daun jambu biji ini baik kita konsumsi saat kita mengalami diare (Parbuntari, 2018).
Nah, ternyata banyak sekali kan kandungan dari daun jambu biji… Sekian dulu dari saya, terimakasih sudah mampir dan mohon maaf kalau ada salah kata. Semoga Bermanfaat


REFERENSI

Anggraini, Septia. 2010. Optimasi Formula Fast Disintegrating Tablet Ekstak Daun Jambu Biji (Psidium guava L.) Dengan Bahan Penghancur Sodium Glycolate dan Bahan Pengisi Manitol, Universitas Muhammadiyah, Surakarta.
Dwiyanti. 2015. Daun Jambu Biji (Psidium guava L.)sebagai anti kanker payudara, Jurnal Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah, Prof. Dr. Hamka, Vol. 2, no. 2.
Hermawan Et. Al. 2012. Uji Aktifitas Ekstrak daun Jambu Biji Sebagai Antimikroba Terhadap Bakteri Kar ies Streptococcus mutanssecara In Vitro. Malang, Universitas Brawijaya, hal. 69.
Julianto, Yohanes dan Muford. 2013. Formulasi tablet hisap daun jambu biji (Psidium Guava L.) yang mengandung flavonoid dengan kombinasi bahan pengisi manitol-sukrosa. Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Traditional Medicine Journal, 18(2), 2013.
Oktiarni,D., Manaf,S., Suripno. 2012. Pengujian Ekstrak Daun Jambu Biji ( Psidium guajava Linn.) Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Pada Mencit (Mus musculus).
Parbuntari, H., Prestica, Y., Gunawan, R., Nurman, M. and Adella, F. 2018. “Preliminary Phytochemical Screening (Qualitative Analysis) of Cacao Leaves (Theobroma cacao L.)”, EKSAKTA: Berkala Ilmiah Bidang MIPA, 19(2), pp. 40-45. doi: 10.24036/eksakta/vol19-iss2/142.